Filsafat Komunikasi

Bahan Kuliah III

ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI

 

Filsafat Komunikasi

K. B. Primasanti

 

Filsafat (ilmu) komunikasi memiliki tiga ranah.

Jelaskan ketiga ranah tersebut disertai contoh yang relevan!

 

                Ilmu komunikasi didefinisikan orang dalam makna dan penekanan yang beragam. Untuk membantu kita menemukan kebenarannya dalam kerangka pikir yang mendalam, filsafat komunikasi menjadi alat untuk membantu penyelidikan tersebut. Filsafat komunikasi kemudian diarahkan kepada tiga komponen kajian, yakni: epistemologi, ontologi serta aksiologi. Berikut ini penulis akan menjelaskan ketiga ranah filsafat tersebut dengan ilustrasi yang relevan.

 

Epistemologi

                Epistemology is a branch of philosophy that studies knowledge, or how people know what they claim to know[1]. Secara etimologi, epistemologi berarti kata, pikiran percakapan tentang pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Secara tradisional yang menjadi pokok persoalan dalam epistemologi adalah sumber, asal mula dan sifat dasar pengetahuan; bidang, batas, dan jangkauan pengetahuan; serta validitas dan reliabilitas dari berbagai klaim terhadap pengetahuan. Demikian juga dalam ilmu komunikasi, epistemologi menjadi dasar untuk memahami secara mendalam apa sesungguhnya ilmu komunikasi itu.

                Isu-isu dasar dalam kajian ini biasanya diekspresikan melalui beberapa pertanyaan, seperti: apakah ilmu komunikasi itu, apakah yang menjadi sumber dan dasar terjadinya ilmu komunikasi, apakah ilmu komunikasi itu merupakan kebenaran yang pasti atau hanya dugaan belaka. Misalnya dengan bersandar pada konstruktivisme dan kesadaran bahwa dunia ini merupakan proses dan orang mengambil peran aktif dalam menciptakan pengetahuan, maka komunikasi diasumsikan sebagai kendaraan yang vital dalam konstruksi realitas sosial.

                Untuk mengilustrasikan penjelasan epistemologi ini, penulis menggunakan kajian gender dan media. Ada yang mengatakan bahwa media merupakan ruang bagi pria untuk menyatakan eksistensi mereka. Ada pun tempat untuk wanita adalah selalu berada pada domain belakang. Kaum feminis melontarkan kritik atas fenomena komunikasi yang demikian. Isu politis, sosial dan budaya kemudian diangkat untuk mengadvokasi hak perempuan dalam media. Secara epistemologi, wacana ini muncul atas kritik dari kaum feminis terhadap ketidakadilan dalam media. Apakah isu ini merupakan kebenaran atau bukan, yang jelas dia timbul dari kegelisahan manusia akan sebuah fenomena yang dinilai tidak adil bagi sebagian dari mereka.

 

Ontologi

                Ontology is a branch of philosophy that deals with the nature of being, or mre narrowly the nature of tings we seek to know[2]. Pertanyaan untuk mengekspresikan ontology ilmu komunikasi, misalnya: Apakah realitas dalam komunikasi itu? Apa eksistensi yang sesungguhnya dari ilmu komunikasi itu? Apakah ilmu komunikasi merupakan realitas yang tampak atau tidak?[3]. Untuk ilmuwan dalam bidang komunikasi, hal ini meliputi pemikiran mengenai tabiat dunia sosial dan entitas yang memenuhi dunia. Dalam ilmu komunikasi, ontologi berpusat pada interaksi sosial manusia. Seperti hanya pada ranah epistemologi, ontologi dalam ilmu komunikasi juga dapat dilihat dari beragam perspektif. Misalnya Burell dan Morgan (1979) yang berposisi sebagai realis[4]. Menurut kaum realis ini, dunia fisik dan sosial dilihat sebagai struktur yang eksis di “luar sana” dan bebas dari persepsi individu. Bagi kaum realis, setiap individu bisa memiliki tingkat konsep yang beragam yang disebut kompensi berkomunikasi seperti seseorang memiliki rambut dengan warna yang tertentu. Sedangkan menurut kaum nominalis, kompetensi komunikasi individu merupakan label dari pengalaman spesifik individu dalam dunia sosial mereka; hal ini tidak riil dan tidak obyektif.

                Ontologi dalam ilmu komunikasi menjadi penting karena para teoritisi mengkonseptualisasikan komunikasi dengan bergantung pada pengukuran yang luas mengenai bagaimana melihat para komunikator itu. Walaupun begitu banyak posisi ontologis dapat dilihat dalam teori komunikasi, ada dua posisi dasar yang mengemuka: actional theory dan nonactional theory. Actional theory berasumsi bahwa individu menciptakan makna, memiliki intensi, dan membuat pilihan-pilihan yang riil. Mereka berasumsi bahwa orang-orang bertingkah laku secara berbeda dalam situasi yang berbeda karena perubahan aturan. Non actional theory berasumsi bahwa tingkah laku pada dasarnya terbagi dan tergantung pada kondisi biologis dan lingkungan. Hukum biasanya dipandang sebagai sesuai dengan tradisi ini; intepretasi individu ada di ranah bawah.

                Sebagai ilustrasi, penulis akan mengemukakan kasus kekerasan dalam media yang dipotret melalui paradigma intepretif. Secara ontologi, paradima ini mengakui bahwa realitas sosial terjadi dalam bentuk multi konstruksi mental berdasarkan lingkungan sosial ataupun pengalaman individu, bersifat lokal dan spesifik, tergantung pada individu yang melakukan pendefinisian terhadap sesuatu. Social realities cime to be understood and acted upon social actorsReality can not be understood except trough a consideration of the mental and social process that are continually constructing that reality[5]. Setiap individu memiliki interpretasi yang berbeda terhadap fenomena kekerasan dalam media. Kestabilan pendangan mengenai realitas yang ditampilkan dalam media akan mempengaruhi perilakunya dalam realitas sosial mereka. Dengan paradigma ini, secara ontologis, kekerasan dalam media dipandang sebagai multikonstruksi mental dari individu yang mengambil referensi brdasarkan lingkungan sosial ataupun pengalaman individu masing-masing.

Aksiologi

                Axiology is the branch of philosophy studying value[6]. Sebuah pertanyaan subtantif dari ranah ini adalah apakah ilmu komunikasi bebas nilai?. Pandangan klasik dalam ranah ini menyatakan bahwa “nilai-nilai” tertentu tidak boleh mencemari proses kajian ilmu pengetahuan – dalam hal ini ilmu komunikasi. Namun, beberapa ilmuwan lain membantahnya dengan mengatakan bahwa nilai dari suatu konteks pengkajian ilmu tidak dapat dieliminasi namun di dalam konteks verifikasi ilmu memang ilmuwan harus memiliki mekanisme untuk mengeliminir nilai yang akan menodai aktivitas keilmuan itu (Karl Popper, 1976)[7].

Ilustrasi untuk bagian ini masih dengan contoh media dan kekerasan di atas dipandang dengan paradigma interpretif. Secara aksiologi, tentu saja paradigma ini membantu kita keluar dari kekakuan aliran klasik. Dia menyajikan konteks individu dan interaksi sosialnya dalam berbagai kajian serta meminimalkan bias nilai dalam proses pengkonstruksian kekerasan dalam media[8].

 

 

 

 

 

 

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Pilihlah sebuah obyek dalam bidang ilmu komunikasi dan jelaskan dari berbagai sisi selengkap dan sedetail mungkin!

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 

                Ada dua cara mendefinisikan obyek komunikasi. Pertama, obyek material, pendefinisian obyek dilakukan secara obyektif sesuai sifat-sifat umum dari obyek tersebut. Kedua, obyek formal, yakni obyek yang didefinisikan secara subyektif menurut komunitas keilmuan yang bersangkutan – dalam hal ini ilmu komunikasi. Obyek formal atau focus of interest dalam ilmu komunikasi, yakni institusi atau sistem pendukung media, institusi atau sistem media komunikasi dan output atau content (isi media).  Lebih tegas, Ashadi Siregar (1994: 4 dalam Ana Nadya Abrar) menyebut focus of interest ilmu komunikasi adalah informasi dan media[9]. Obyek ini memiliki dua konteks, yakni internal dan eksternal. Konteks internal mencakup dimensi fungsi dan institusi atau sistem kerja; sedangkan konteks eksternalnya adalah khalayak (efek dan motivasinya). Dalam tulisan ini, obyek dalam ilmu komunikasi yang akan dikaji adalah content media televisi di Indonesia.

 

Mengapa isi media televisi?

                Eksistensi televisi akhir-akhir ini menjadi keresahan tersendiri bagi penulis.  Ada yang mengatakan, budaya kekerasan, adopsi gaya hidup, dan serapan nilai-nilai konsumerisme melalui media merupakan realitas yang menjadi bagian dari dinamika kehidupan itu sendiri[10]. Ironisnya, saat ini televisi justru menampilkan program-program yang berbenturan dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Salah satunya karena munculnya perlbagai siaran televisi domestik dan asing yang datang dari seluruh penjuru dunia. Ramuan kekerasan dan seksualitas mendominasi tayangan televisi, bahkan subandy Ibrahim mengatakan pengaruh televisi terbesar terutama pada aspek budayanya[11]. Lalu, apa dan bagaimana sesungguhnya isi media televisi di Indonesia itu? Penulis akan mengurainya berdasarkan beberapa dimensi berikut.

Karakter Umum

Televisi merupakan sarana (media) komunikasi massa sehingga memiliki karakter sesuai karakter media massa. Sumbernya organisasi atau orang yang punya pengetahuan terbatas  terhadap penerima; melalui banyak tahap dalam encoding dan decoding; pesan publik terkadang mahal, mudah terputus, sama untuk setiap orang (perlu standarisasi format); khalayak yang besar, tak ada kehadiran secara fisik, memilih secara sukarela; feedback terbatas dan tertunda, ada gangguan semantik, lingkungan dan mekanis[12]. Televisi – dalam ilmu komunikasi – ditempatkan pada media untuk menampilkan realitas simbolik dari realitas sosial yang ada.

Sebagai sarana komunikasi, televisi memiliki pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam penyampaian informasi, sebagai tugas pokoknya, media ini membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu[13].

Televisi mampu menghadirkan sesuatu yang aktual dan serempak dapat diterima oleh khalayak penontonnya. Karakter audio visual televisi menyebabkan simulated experience – pengalaman-pengalaman sesuai dengan yang telah dimiliki sebelumnya. Melalui media TV, kita dapat melihat simulated experience tentang:

  1. melihat sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya
  2. berjumpa dengan seseorang yang belum pernah dijumpai
  3. datang ke suatu tempat yang belum pernanh dikunjungi

Penemuan terakhir – berdasarkan rating – program yang menarik dan memenuhi ekpektasi khalayak adalah sajian yang diformat sebagai serial dengan suspens yang tinggi sehingga di setiap akhir episode, penonton selalu ingin tahu kelanjutannya. Artistiknya pun diolah dengan sangat memikat, misalnya: setting, kostum, lokasi, pemain dan naskahnya (Wibowo, 1994).

Dimensi Historis Obyek Kajian

                Pada akhir abad ke-20 televisi benar-benar menjadi fenomena global. Di Indonesia, televisi hadir pada tahun 1962 sebagai pelayanan siaran pemerintah yang didanai oleh pemerintah. Siaran pertama televisi Indonesia pada Agustus 1962: siaran perayaan peringatan hari kemerdekaan ke-17 dan liputan 12 Hari Asian Games. Kemudian, melalui deregulasi penyiaran televisi pada tahun 1990 dilakukan pendirian secara cepat lima saluran swasta nasional.  Bahkan perintis televisi, Soemartono, (seperti dikutip Kitley) megatakan bahwa setelah Asean Games, program televisi lainnya belum terpikirkan. Sembilan belas September 1962, siaran dimulai lagi dengan film-film yang dipinjam dari pusat Film Negara[14]

                Memasuki era orde baru, televisi banyak diintervensi, bahkan didominasi oleh rezim negara. TVRI – satu-satunya stasiun televisi pada waktu itu – seolah menjadi alat negara untuk menyampaikan kamuflase propagandanya mengenai pembangunan. Hal ini lebih ditegaskan dengan adanya pelarangan iklan serta program-program yang sepenuhnya dibuat secara kerjasama dengan pemerintah.  Saat ini, setelah  semakin banyak stasiun televisi yang memulai siarannya, masyarakat Indonesia dapat dikatakan sedang mengalami banjir informasi. Televisi swasta bermunculan, sebut saja RCTI, INDOSIAR, TPI, TRANS TV, TRANS 7, LATIVI, dll. Ditambah lagi merebaknya stasiun televisi lokal membuat kompleksitas isi pertelevisian di Indonesia membutuhkan perhatian yang lebih.

 

Dimensi Subyek (Pelaku)

                Ketika pertama kali bersiaran, armada TVRI merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah. Seluruh program dan tayangannya wajib dibuat bersama pemerintah. Demikian juga pada amsa orde baru, walaupun sudah sedikit membuka diri kepada pasar, kepentingan pemerintah tetap mendominasi siarannya. Misalnya sinetron-sinetron yang merepresentasikan multikulturalisme di Indonesia, namun meletakkan etnis “non jawa” pada tingkat sosial yang lebih rendah (Serial Unyil, Keluarga Rahmat, Pidato Kepresidenan dan Mentri, Kunjungan Presiden, dll). Setelah televisi swasta berkembang, dominasi pemerintah terhadap isi tayangan sudah mulai tereduksi. Persaingan mengharuskan keterlibatan penguasa modal (baca: pengusaha/ industri) untuk ikut ambil bagian dalam perkembangan isi pertelevisian. Implikasinya, tayangan yang muncul bernuansa komersial dan berorientasi pada pasar – meninggalkan konteks ideologisnya. Keresahan akan dominasi pengusaha yang dilegitimasi pemerintah ini melahirkan wacana mengenai televisi lokal yang program-programnya diharapkan dapat menampilkan kebudayaan lokal. Namun sampai saat ini, keberadaan televisi lokal belum menjawab tantangan pertelevisian kita, karena ‘lagi-lagi’ pengusaha yang ada di balik desain program siarannya.

 

Dimensi Interaksi (dengan khalayak)

        Televisi merupakan media massa. Maka dia melakukan interaksi dengan khalayak (audience) dalam konteks eksternalnya. Tidak seperti media interaktif, media televisi cenderung pasif dan menuntut keaktifan dari khalayak. Interaksi terjadi dalam proses mengintepretasi pesan-pesan yang terkandung dalam isi media televisi. Hal ini berarti bahwa media televisi mampu membuat perasaan khalayak terlibat ke dalam pengalaman yang aktual. Untuk itu, menjawab tantangan perkembangan televisi, dalam merencanakan program siaran harus memperhatikan selera, keinginan, kebutuhan khalayak sehingga dapt memberi sugesti, imaji dan emosi yang posistif. Menurut K. Aurey dalam bukunya Communication and The Media, Khalayak bersifat reaktif dalam menerima pesan yang beragam coraknya. Sikap itu diantaranya:

  1. Selective attention (menerima pesan yang diminati saja)
  2. Selective perception (berbeda persepsi dalam menerima pesan)
  3. Selective retension ( mengingat hanya yang berkaitan dengan kepentingan mereka saja.

Kondisi sosial-ekonomi-budaya di Indonesia menjadi konteks tersendiri interaksi khalayak dengan isi pesan televisi. Padahal untuk mampu menarik manfaat dan mampu menilai kebenaran isi televisi, dibutuhkan kemampuan berpikir kritis dari khalayak. Masyarakat belum mampu menjadi penonton yang kritis dan benar lantaran tidak mempunyai ketrampilan berinteraksi dengan media secara kritis. Dalam bahasa formal mereka perlu, mendapatkan pendidikan media agar dapat mengambil manfaat dan tidak mudah terpengaruh isi media[15]. Pertanyaanya, apakah di Indonesia interaksi khalayak dengan media sudah didasari dengan literasi ini? Selama ini kita masih kesulitan memetakan jawabannya karena dalam masyarakat di Indonesia “melek”media masih dimiliki oleh struktur masyarakat tertentu, sedangkan sebagian besar lainnya, belum tersentuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

REFERENSI

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 

Azwar, Saifuddin. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya edisi ke-2. 1998. Jogjakarta: Pustaka Pelajar

Berling, et al (ed.). 1970.  Pengantar Filsafat Ilmu. Diterjemahkan oleh Soejono Soemargono. 1986. Yogyakarta: Tiara Wacana        

 

Litley, Philip. 2000. Konstruksi Budaya Bangsa di Layar Kaca. Jakarta: Studi Arus Informasi

 

Littlejohn, Stephen W. 2002. Theories of Human Communication.  Wadsworth

 

Miller, Katherine. 2001. Communication Theories: Perspective, Process and Contexts. McGrraw Hill   

McQuil, Denis. Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. _edisi kedua. 1987. PT. Bandung: Erlangga

Rapar, Jan Hendrik. 1996. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius

 

Smeiawan, Conny R., Putrawan, I Made., I Setiawan. 1991. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu.  Bandung:  PT Remaja Rosdakarya

 

Siregar, Ashadi.  Bahan Acuan Mata Kuliah Filsafat Komunikasi

 

 

Artikel berjudul “Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam” Oleh: Feti Fatimah dalam http://tumoutou.net/702_04212/feti_fatimah.htm

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Stephen W. Littlejohn     Theories of Human Communication     2002     Wadsworth

[2] ibid.,

[3] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat,  Kanisius, Yogyakarta, 1996

[4] op cit.,

[5]Penjelasan mengenai asumsi pandangan intepretif dijelaskn dalam Katherine Miller, Communication Theories, McGraw-Hill, 2002

[6] op cit., hal. 29

[7] Pandangan karl Popper ini mewakili pandangan beberapa ilmuwan lainnya dalam mengkaji ilmu komunikasi – yang menyatakan bahwa nilai memang berperan dalam proses keilmuan, misalnya kau feminis, dll. Pandangan ini bisa dibaca dalam Katherine Miller, Communication Theories: Perspective, Process and Contexts,  McGrraw Hill,  2001

[8] Penjelasan mengenai asumsi pandangan intepretif dijelaskn dalam Katherine Miller, Communication Theories, McGraw-Hill, 2002

[9] Ana Nadya Abrar, Rencana Buku “Kebijakan Komunikasi: Konsep, Hakekat dan Praktik

[10] Disarikan dari artikel “Budaya Smack Down di Sekitar Kita”, dalam Suara Merdeka, Kamis, 30 Nopember 2006     http://opini.wordpress.com/tag/kekerasan/ 

[11] Idi Subandy Ibrahim, 1997: 222 dalam Jurnal Penelitian Komunikasi Universitas Indonesia, Vol. IV/ No I, Januari-April 2005

[12] Hand Out Mata Kuliah Komunikasi Massa 2004

[13] Saifuddin Azwar, Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya edisi ke-2, Pustaka Pelajar,  Jogjakarta,  1998

 

[14] Philip Kitley dalam bukunya “Konstruksi Budaya Bangsa di Layar Kaca” mengkaji dengan detail kajian televise di Indonesia dari sejarah, kelembagaan maupun kontennya. Philip Kitley, “Konstruksi Budaya Bangsa di Layar Kaca”, 2000

[15] Penjelasan ini diungkapkan oleh Gunarto, 2003 hal.5 yang dikutip oleh Inaya Rakhmani dalam Jurnal Penelitian Komunikasi Universitas Indonesia, Vol. IV/ No I, Januari-April 2005

11 responses to this post.

  1. Posted by marcella stephanie on August 30, 2011 at 3:22 am

    Saya setuju miss…dari mata kuliah kom massa saya juga tahu bahwa media massa seperti TV punya 2 efek, primer dan sekunder. Nah, efek sekunder ini termasuk perubahan kognitif dan perilaku. Televisi menurut saya punya efek tak terbatas, apalagi untuk efek sekunder yang kurang diperhatikan oleh para produser program TV. Masih banyak program TV yang dibuat hanya untuk memenuhi selera pasar, bukan untuk mendidik penontonnya, walaupun saya juga melihat bahwa sekarang sudah mulai banyak bermunculan program-program TV yang mencoba menginsipirasi, bersifat informatif dan berbobot seperti Kick Andy, Nilai Kehidupan, Provoactive, dll. Memang, salah satu fungsi media massa memang hiburan, tetapi hiburan tersebut tetap harus dikemas dengan baik agar penonton mendapatkan pesan yang bermanfaat. Sedangkan kalau saya melihat sinetron Indonesia, bahkan sinetron yang rohani sekalipun, semuanya banyak menonjolkan sisi negatif di kehidupan masyarakat, seperti hamil di luar nikah, selingkuh, kawin lari, melawan orang tua. Saya rasa konflik semacam itu wajar bila diceritakan hanya sekali atau 2 kali, namun seringkali konflik yang sama terus ditayangkan di sinetron-sinetron yang lain. Belum lagi, jika sinetron itu ternyata memiliki rating tinggi, maka kemungkinan ceritanya akan dipanjangkan, dan dibuatlah konflik baru yang kadang-kadang tidak masuk akal.
    Seringkali saya bingung, apakah televisi menampilkan hal tersebut krn memang itulah yg terjadi di masyarakat, atau malah salah satu penyebab hal tersebut terjadi ialah karena dipengaruhi oleh terpaan tayangan sinetron di TV? Televisi mungkin tidak sadar bahwa hal yang kecil dan dianggap remeh, yang mungkin hanya merupakan bumbu cerita itu bisa berdampak besar bagi masyarakat. Karena itu miss, saya setuju jika masyarakatlah yang hendaknya bisa lebih selektif dalam memilih tontonan di TV, karena para produser acara mungkin lebih tertarik pada popularitas (rating) dan uang daripada memperkaya wawasan bangsa ini =D

    Reply

  2. Hmmm….kalau begitu, persoalan sinetron yang demikian tidak berkualitas tidak bisa diselesaikan dong? Masalahnya, yang dilawan kan kapitalisme??? Gimana menurutmu??

    Reply

  3. Posted by marcella stephanie on September 8, 2011 at 8:34 am

    kalau menurut saya sebenarnya bisa aja dibikin sinetron yang bagus n mendidik, tapi tetap sesuai selera penonton, jadi bisa tetap laris di pasaran miss..jadi produser harus tahu selera pasar miss, lalu dibuat tayangan yang sesuai selera pasar tapi ada unsur edukatifnya gitu lo miss..jangan cuma ikut2an, satu sinetron ada anak yag ditukar dan laris, eh sinetron2 berikutnya ngikut juga ada anak yg ditukar..mungkin bisa dibuat sinetron yang sesuai dengan kehidupan sehari2, dengan konflik yang bervariasi. terus produser juga harus kreatif, kalau memang episodenya harus berhenti, ya berhenti, jangan dipanjangin, biar kreatif bikin tayangan baru yang berbeda jadi bisa meramaikan industri sinetron indonesia gitu lo miss..haha..itu sih menurut saya miss..

    Reply

  4. Posted by Felicia Janice Suciawan on September 12, 2011 at 2:15 pm

    hi🙂 ikut nimbrung nih. menanggapi sinteron dan kapitalisme, saya rasa memang sulit untuk menyelesaikan masalah sinteron yang tidak berkualitas. Bisa saja kalau penulis skripnya membuat naskah yang punya unsur pendidikan,moral yang tinggi, Tapi dalam kenyataanya untuk sinetron bisa masuk ke televisi saja sudah memakan biaya yang sangat banyak. Adapula pihak-pihak yang ‘tidak terlihat’ yang punya andli dalam sebuah produk sinetron. jadi tidak semudah itu tim produksi membuat sinetron yang ‘alim’. secara otomatis yang namanya manusia pasti tidak mau rugi, apalagi kalau ini bisnis besar.

    dalam sehari ada banyak sekali sinetron yang ditayangkan di tv. mirip-mirip lagi, seperti yang di katakan marcella hehe. untuk menyelesaikan masalah ini.. ehm bagi saya mungkin bukan menyelesaikan tapi meminimalisasikan efek sinetron yang tidak berkualitas, mengingat permintaan masyarkat akan hiburan drama di Indonesia sangat besar. ini bisa diliat dari banyaknya sinetron di saat prime time. sepertinya sudah jadi kebiasaan warga indonesia untuk melihat sinetron. dulu saja saya termasuk penggemar tersanjung saat masih SD. hehe :p
    ada beberapa cara untuk meminimalisasikannya, KPI diharap membuat standard yang lebih relevan dengan realita penayangan sinetron di Indonesia. contohnya mengenai jam tayang sinetron. sekarang sinetron tidak hanya berdurasi 1 jam, malah ada yang 2 jam lebih. penonton pasti semakin terhanyut kalau begini caranya hehe.

    Keluarga dan institusi pendidikan punya peranan lebih besar lagi karena disitulah nilai dan norma kehidupan ditanamkan pada seorang individu. tapi bagaimanapun juga paling penting itu dari individunya sendiri. kalau tidak pintar-pintar memilih tayangan, nah gawat itu bisa-bisa tidak realistis dan menyimpang dari nilai dan norma yang ada. paling tidak kurangilah, waktu mengkonsumsi sineteron. kalau sekedar untuk hiburan tidak apa-apa asal bisa memilah mana yang benar mana yang benar dan tidak.
    🙂

    Reply

  5. Posted by Glandy Burnama on September 13, 2011 at 2:47 pm

    kalau menurut saya sih, sah-sah saja pihak stasiun TV menyiarkan sinetron semacam itu. Mau gimana lagi ?? mereka harus menuruti keinginan penonton lewat rating. Yang diperlukan di sini adalah kebijaksanaan masyarakat sebagai komunikan. Misalnya, para orangtua hendaknya mendampingi anak2nya yang sedang menonton tayangan2 semacam itu. Demikian pula para penonton dewasa hendaknya lebih bijaksana dalam mencerna acara2 di televisi. Kita hidup di zaman dimana banyak sekali suguhan media massa yang memiliki efek kuat. bila kita tidak bijaksana, bisa-bisa yang kita ambil ya cuma sisi negatifnya. coba kalau kita lebih bijaksana. bukan tidak mungkin sisi positif kita dapatkan.

    Gitu sih argumen saya…:D

    Reply

  6. Posted by Chelsea on September 22, 2011 at 3:56 pm

    numpang kasi comment juga deh miss… cell.. hehehe. kalo boleh saya beri tambahan contoh mungkin yg dimaksud acel tuh film2 sinetron peraih penghargaan2 itu miss.. Itu benernya filmnya udah oke,Cuma entah kenapa, budaya perfilman Indo tu mesti begitu. Setelah dapet penghargaan malah dipaksain lanjut ceritanya. ‘Kan cerita fiilmnya jadi berkesan “maksa”.. wewh.. turut prihatin sih. Ditambah lagi dengan maraknya film-film Korea di kalangan masyarakat. Saya kira kalo dibandingkan dengan Film2 kita tuh bagaikan langit dan bumi.. entah kualitas secara teknis maupun story nya. hehe. maaf kalo kata2 saya kurang enak dibaca.🙂

    Reply

  7. Posted by Felicia on September 29, 2011 at 4:31 pm

    Saya juga ikut nimbrung nihh.. hehehe saya juga sebenarnya heran dengan tayangan sinetron yang sering diwarnai dengan adegan2 dan kasus2 yang tidak “make sense” tapi tetap mendapat rating yang tinggi. Namun hal ini tidak dapat dipungkiri miss .. Oma dan mama saya termasuk pecinta sinetron juga^^.. Nonton film sambil marah2 sama sutradara adalah hal yang sering dilakukan oleh mereka saat menonton sinetron. Tetapi setiap harinya, oma dan mama saya selalu mengikuti kelanjutan episode dan tidak mau ketinggalan ceritanya. Hal ini cukup memprihatinkan bagi saya, karena “value” maupun hiburan yang didapatkan tidak sebanding dengan sisi pertengkaran, kekerasan, kebencian, dan hal2 negatif yang ditayangkan. Seperti secara perlahan tapi pasti melakukan pembodohan masyarakat. Dan semua atas nama “rating” >.< Seharusnya pihak2 yang berperan dalam menyajikan tayangan sinetron lebih bijaksana lagi dalam penanaman "value" pada masyarakat kita.🙂

    Reply

  8. Posted by Felicia Njotorahardjo on September 29, 2011 at 4:56 pm

    miss .. saya Felicia.N NRP 51410033 hehehehe🙂

    Reply

  9. Posted by Felicia Njotorahardjo on September 29, 2011 at 5:02 pm

    maaf miss,.saya td sudah post comment, tapi kok rasanya nda masuk ya?? >.< hikss

    Reply

  10. Posted by Felicia Njotorahardjo, NRP 51410033 on October 1, 2011 at 4:45 am

    Saya juga mau ikutan nimbrung heheehe,, menurut saya ,, menonton sinetron menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat kita, khususnya para ibu2😛.. Yang agak menggelitik bagi saya adalah para pecinta sinetron sendiri menyadari bahwa banyak alur cerita yang tidak “make sense” . Namun mereka tetap dengan setia setiap hari menunggu di depan layar televisi untuk menyaksikannya. Mama dan oma saya sendiri termasuk pecinta sinetron miss XP mereka bahkan menolak keluar jalan-jalan karena tidak mau ketinggalan kelanjutan episodenya. Fenomena komunikasi yang sering saya saksikan adalah mama atau oma saya biassanya menonton sambil marah-marah dan mencela pemain maupun sutradaranya ^^ hahahhaa,, menurut saya sinetron yang ada saat ini kurang menonjolkan “value” yang berdampak positif bagi masyarakat kita. Semua dilakukan atas nama “rating”. Cerita yang disajikan seringkali diwarnai dengan kekerasan, kebencian, dan pertengkaran. Dan menurut saya hal ini merupakan salah satu bentuk pembodohan masyarakat miss>.< .. Tidak ada cara lain,, Ini adalah tugas kita dan semua lapisan masyarakat yang sadar untuk bergerak dan ikut ambil bagian dalam ranah pertelevisian Indonesia🙂

    Reply

  11. Hmm… Aku juga mau nimbrung nih… Menanggapi semua komentar di atas, saya rasa kita bisa melakukan re-framing terhadap film-film Indonesia… Banyak film Indonesia yang melakukan framing terhadap konflik-konflik pada film… Menurut saya, hal inilah yang patut kita ubah… Jika selama ini produser-produser Indonesia selalu melakukan framing terhadap konflik, bagaimana jika framing kita lakukan pada solusi atas konflik yang terjadi… Jadi penekanan film bukan pada kekerasan, namun pada solusi sehingga masyarakat bisa memecahkan masalah yang serupa dengan yang ada di film jika mereka mengalami masalah atau konflik tersebut… Lalu, saya setuju banget sama si Chelsea… Menurut saya, jika rating film sudah tinggi dan film sudah saatnya tamat, lebih baik ditamatkan yang sesungguhnya, jangan kemudian melanjutkan cerita dengan alur cerita dan konflik-konflik yang makin tidak masuk akal… Hihii… Sekian aja deh… Itu pendapat menerut saya mengenai perfilman dan pertipian di Indonesia… Hehee~

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: