Psychology of Communication: Final Assignment

Hi Students,

You have learned some approaches in psychology of communication, it is your turn to applicate it into real problem. Within this paper, i assign you to make a group consists of 8 students on each to explore how a community produce their message approached by psychology of communication theory. So, here we go:

1. Find a unique communicty (do not be failed to assure that this is qualified to be the unique one)

2. Be there and make an observation (observe their history, culture, and how they communicate one another)

3. Make a proposal (background, purpose, significance of problem, problem statement, theory, method of finding the data, job description and schedule of each member of your group), submit next week from now.

4. With skeptic glasses, go there!

5. Take your camera on you (BECAUSE YOU HAVE TO MAKE A SHORT DOCUMENTARY MOVIE about them)

6. Do not forget to consult you assignment everytime you get the opportunity.

7. Make an analysis about the communication process based on psychology of communication theory.

9. Do not forget to put text citation on your paper (without it, you will get E)

8. Present your final assignment on the date of final exam.

Its easy and fun, isnt it? Hahaha….do your best guys.

Herewith, i attach an example of this assignment on sociology of communication perspective. Be careful, you are not in the same subject.

For the sake of God’s glory

Love,

Prime

———————————————————————————————-

ABSTRAKSI

 

 

            Trauma yang dialami anak-anak korban konflik Halmahera telah menarik perhatian yayasan Pondok Eljireh. Sebuah yayasan yang bermisi untuk memulihkan traumatisme anak-anak korban konflik dan berperan dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia anak-anak tersebut. Sebagai yayasan yang memiliki karakteristik  yang berbeda dari yayasan lainnya, terdapat pola-pola komunikasi yang berbeda pula.Yayasan ini menerapkan bentuk-bentuk komunikasi yang dirancang khusus untuk memulihkan trauma yang dialami anak-anak misalnya, aktivitas religius yang berkesinambungan, penerapan metode reward and punishment, serta komunikasi interpersonal dalam penyelesaian masalah.

            Keunikan yang terdapat pada Pondok Eljireh inilah yang menarik perhatian peneliti untuk menelisik komunikasi sosial anak-anak korban konflik Halmahera ini. Pola komunikasi yang dinilai berperan sebagai terapi traumatisme ini ternyata menimbulkan persoalan psikologis dalam diri anak-anak. Persoalan psikologis inilah yang secara tidak langsung membawa dilema bagi penerapan pola komunikasi yang diterapkan di pondok tersebut.

Tulisan ini akan dipaparkan dengan menggunakan pendekatan kritis. Pendekatan ini digunakan karena peneliti menilai adanya bentuk-bentuk dominasi yang tersembunyi di dalam proses komunikasi selama berlangsungnya aktivitas sehari-hari. Pola komunikasi yang selama ini dianggap wajar oleh pihak pengurus pondok ternyata menimbulkan rasa tertekan pada diri anak-anak.

Selanjutnya, observasi ini dapat digunakan sebagai refleksi mengenai bagaimana pola-pola komunikasi diterapkan di lingkungan yang terbatas, seperti panti asuhan atau sebuah pondok. Hal ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi kita sebagai pengkaji bidang komunikasi kelak atau bagi mereka, yang memiliki perhatian terhadap pemeliharaan anak-anak, khususnya korban konflik untuk dapat merumuskan pola-pola komunikasi yang berdaya guna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENELISIK KOMUNIKASI SOSIAL ANAK-ANAK KORBAN KONFLIK HALMAHERA DI PONDOK ELJIREH

 

Konflik agama di Halmahera yang meletus tahun 1996 tak dapat diingkari telah meninggalkan jejak luka yang dalam (Mer-C, 1999). Puluhan penduduk meregang nyawa, bahkan dengan cara yang tragis, dibantai. Peristiwa ini menyisakan luka psikis, terutama bagi penduduk setempat. Luka psikis yang sering  disebut trauma ini dapat berupa kesedihan, kehilangan orang tua, bahkan ada yang melihat sendiri sanak keluarga mereka dibantai (Soetardjo Wiramihardja, 2005). Luka ini akan terus membayangi mereka yang mengalami sendiri peristiwa tragis tersebut. Akibatnya, traumatisme  turut menentukan perkembangan karakter dan kepribadian seseorang, tak terkecuali anak-anak. Anak-anak pun harus mendapat terapi khusus untuk menyembuhkan trauma mereka.

Fenomena ini mengundang perhatian, baik dari pemerintah, instansi-instansi maupun masyarakat sekitar, mengingat nasib generasi penerus bangsa ini tengah terancam. Perhatian itu tampak dari banyaknya instansi atau LSM yang menawarkan diri untuk memelihara anak-anak korban konflik. Salah satu yayasan yang memiliki kepedulian semacam itu adalah Yayasan Eljireh.

Yayasan Eljireh didirikan tahun 1998. Berbeda dengan yayasan-yayasan sosial lainnya yang menaruh perhatian pada pemeliharaan anak-anak yatim piatu atau anak dari keluarga miskin, Yayasan Eljireh memiliki visi berbeda, yakni menyembuhkan trauma anak-anak korban konflik. Misi yayasan ini adalah mengenalkan anak-anak itu pada Firman Tuhan (sebagian besar anak-anak di sana beragama Kristiani) dan mendidik anak-anak tersebut agar dapat menjadi SDM yang berkualitas. Dengan keterampilan dan kemampuan yang mereka miliki kelak, diharapkan mereka akan mampu membangun daerah asal mereka, bumi Halmahera.

Tahun 2002 silam, yayasan ini menyeleksi beberapa orang anak dari bumi Halmahera untuk dibawa dan dipelihara di Jogjakarta. Setelah melalui beberapa tahap penyeleksian, akhirnya terpilih 26 anak korban konflik yang kemudian dibawa ke Jogjakarta. Saat ini mereka mendiami sebuah rumah – cukup luas – yang terletak di jalan Monjali. Bersama beberapa orang pengasuhnya, anak-anak ini diberikan berbagai pembelajaran sebagai upaya pemulihan trauma yang pernah mereka alami melalui kegiatan rutin yang telah dirancang oleh pengasuh pondok ini.

Interaksi dan Komunikasi

Tak ubahnya jarum jam yang terus bergerak konstan mengikuti ritmenya, kehidupan anak-anak pondok ini pun diisi dengan kegiatan-kegiatan dengan ritme yang nyaris sama setiap harinya. Mereka bangun, berbenah, sarapan pagi, pergi ke sekolah, kerja bakti sore, beribadah, makan malam, belajar, sampai tidur kembali. Sedikit intermezo – bermain, rekreasi – hanya dapat mereka nikmati di akhir pekan. Menurut pengasuh, jadwal kehidupan sehari-hari mereka sengaja disusun secara ketat agar kehidupan mereka penuh dengan aktivitas sehingga proses penyembuhan traumatisme pun dapat berlangsung cepat. Menurut Soetarjo Wiramihardja (2005) , salah satu metode yang harus dilakukan untuk penyembuhan traumatisme adalah dengan jalan membawa mereka ke dalam kesibukan serta perlahan-lahan mengkondisikan ruang hidup mereka seolah-olah seperti semula.

Karena kegiatan sehari-hari mereka dibatasi oleh jadwal yang ketat, otomatis proses komunikasi dan interaksi mereka sebagian besar terjadi di dalam rangkaian kegiatan tersebut. Bayangkan saja sejak bangun tidur sampai malam hari, mereka diwajibkan menjalankan rutinitas tersebut sehingga tidak memiliki waktu luang untuk sekadar berinteraksi dengan komunitas di luar mereka. Sebagian besar komunikasi dan interaksi tersebut terjadi antara anak-anak dengan pengasuh, anak-anak dengan para volunteer serta diantara anak-anak pondok sendiri. Seperti dikatakan Ashadi Siregar (diktat Komunikasi  Sosial, 1985:25) Komunikasi yang berwujud pola-pola di dalam suatu komunitas  pada akhirnya dapat membentuk adanya semacam pranata atau institusi yang dapat digunakan sebagai media komunikasi antarwarga.  Dalam kasus  Pondok Eljireh ini, pola komunikasi yang diciptakan pengasuh dalam rangka menyembuhkan traumatisme anak ternyata juga membawa dampak serupa.

a. Pola Komunikasi anak dengan pengasuh

Menurut Soetardjo Wiramihardja (Wiramiahrdja, 2005) metode terapi yang paling efektif adalah kognitif behavioral teraphy yang salah satu caranya adalah dengan menggunakan sedikit kekerasan atau flooding. Nampaknya, metode yang demikian juga diadaptasi oleh para pengsuh Pondok Eljireh. Mereka mencoba menginternalisasikan nilai-nilai baru – keagamaan, kepedulian, kebersamaan, kedisiplinan, dan sopan santun yang sebelumnya belum mereka kenal – dengan sedikit kekerasan (baca: ketegasan sikap) sebagai upaya mempercepat proses penyembuhan traumatisme tersebut.

Pengasuh merancang jadwal-jadwal untuk mengatur kehidupan mereka sehari-hari.  Keberadaan jadwal-jadwal tersebut tidak dapat diingkari telah memaksa anak untuk hidup sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh pihak pengasuh pondok. Konsep reward  and punishment pun memegang peran penting dalam pelaksanaan jadwal sehari-hari itu. Anak-anak akan mendapatkan penghargaan – berupa hari libur, jalan-jalan, dll – jika mereka mematuhi jadwal yang telah ditetapkan. Sebaliknya mereka mendapat hukuman – ditiadakannya hari libur mereka – apabila mereka tidak patuh.

Penetapan jadwal yang ketat untuk anak-anak tersebut otomatis mengurangi waktu di mana seharusnya anak-anak dapat mengekspresikan diri mereka. Menurut Hurlock (1999 : 159) pada masa akhir anak-anak – usia 6 tahun sampai tiba saatnya individu matang secara seksual – bermain dianggap sangat penting untuk perkembangan fisik dan psikologis sehingga semua anak seharusnya diberi waktu dan kesempatan untuk bermain dan juga didorong untuk bermain, tanpa mempedulikan status sosial ekonomi keluarga mereka. Senada dengan Hurlock, Lever (1986) mengatakan “selama bermain anak-anak mengembangkan berbagai keterampilan sosial sehingga memungkinkannya untuk menikmati keanggotaan kelompok dalam masyarakat anak-anak”.

Selain penetapan jadwal-jadwal di atas, menurut pengamatan peneliti, pengasuh menggunakan proses reproduksi dalam menginternalisasikan nilai-nilai kepada anak Pondok Eljireh, yakni proses mengulang-ulang dan menghasilkan kembali segala hal agar dapat diterima” (Agus Salim, 2002: 20). Secara konstan pengasuh mengingatkan anak-anak akan tujuan mereka dibawa ke sini. “Kalian itu di sini untuk belajar, biar bisa membangun desa kalian kelak” demikian kalimat yang menurut pengasuh sering disampaikan kepada anak-anak. Penyampaian pesan yang berulang-ulang tersebut tanpa disadari telah menguasai mindset anak-anak, sehingga respon mereka relatif positif terhadap pesan yang demikian.

Konsekuensi logis dari respon positif tersebut adalah terbentuknya pemikiran yang relatif sejalan antara anak dengan pengasuh. Gejala ini nampak ketika mereka mengadakan evaluasi mingguan. Sebenarnya evaluasi ini diadakan guna menampung aspirasi, keluhan, kritik dan pendapat dari  anak-anak. Namun nampaknya, forum evaluasi ini hanya menjadi formalitas saja. Walaupun ada perasaan kangen (menurut wawancara peneliti dengan sebagian anak), anak-anak jarang melontarkan keinginan untuk pulang ke Halmahera ataupun meminta sesuatu yang mereka inginkan (sesuai dengan usia mereka).

Pengasuh juga sering menggunakan komunikasi non verbal dalam mendidik anak-anak Halmahera ini untuk mengenal nilai-nilai baru. Misalnya, kebersihan. Pernah suatu ketika pengasuh menyuruh anak-anak berbaris kemudian menyikat mereka satu persatu dengan menggunakan sikat cuci. Walaupun – menurut pengakuan pengasuh – anak-anak tidak merasa nyaman dengan cara tersebut namun pengasuh percaya cara ini dapat membantu menanamkan nilai-nilai kebersihan di dalam diri mereka.

Pendekatan lain yang dilakukan oleh pengasuh adalah dengan komunikasi interpersonal. Apabila ada salah seorang anak melakukan kesalahan, pengasuh tidak langsung menegurnya di hadapan anak-anak lain. Pengasuh membuka forum percakapan empat mata dengan anak ini. Demikian beberapa contoh fenomena komunikasi yang terjadi antara pengasuh dan anak-anak di Pondok Eljireh.  Dari beberapa fenomena komunikasi tersebut kita dapat menarik kecenderungan bahwa komunikasi ini mengacu pada model komunikasi Shannon-Weaver.

b. Komunikasi antara anak dengan Volunteer

            Seperti halnya yayasan sosial lain, Pondok Eljireh mendapat suntikan bantuan, baik dalam bentuk materi maupun jasa dari berbagai pihak. Ketika kami melakukan observasi, kami menemui beberapa volunteer yang sedang melakukan aktivitas bersama anak-anak Pondok Eljireh.Kebanyakan mereka berasal dari kalangan mahasiswa yang sedang menempuh kuliah praktek. Beberapa dari mereka membantu anak-anak dalam belajar. Selain itu mereka berusaha menjadi teman untuk anak-anak itu. Interaksi dan komunikasi antara anak dan para volunteer ini kemudian juga menjadi perhatian peneliti.

            Karena anak-anak Pondok Eljireh mengalami krisis kepercayaan kepada orang lain – menurut keterangan para pengasuh – maka pada awalnya mereka sangat canggung berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang luar ini. Namun, seiring  berjalannya waktu, anak-anak menjadi terbiasa, bahkan menganggap para volunteer tersebut layaknya kakak mereka sendiri.

            Asumsi peneliti, hal ini disebabkan karena anak-anak merasa mendapatkan perhatian yang berbeda dari yang sehari-hari mereka dapatkan di dalam pondok. Para volunteer – karena jumlah mereka banyak, kurang lebih 15 orang setiap harinya – mampu memberikan perhatian yang lebih intens kepada masing-masing anak. Anak-anak pun merasa lebih dekat, bahkan menjadikan mereka tempat “curhat”. Selain sesama anggota di dalam pondok , orang luar (Outsiders) inilah yang menjadi teman dekat mereka.

            Perilaku mereka saat menyambut kedatangan para volunteer pun menunjukkan bahwa sebenarnya mereka sangat merindukan suasana yang berbeda dalam kehidupan mereka yang sarat rutinitas. Anak-anak merangkul, memeluk dan berteriak kegirangan saat volunteer datang – beberapa diantara kami pun sempat mengecap perilaku spontan anak-anak itu.  Perilaku yang demikian menunjukkan bahwa sebenarnya anak-anak merasa dibatasi oleh kegiatan rutin mereka di pondok, sehingga ketika ada orang lain yang datang dalam kehidupan mereka, mereka menunjukkan interest yang tinggi.

Komunikasi antara anak-anak dengan orang luar ini menarik untuk dikaji. Menurut Hurlock (Hurlock:158), dalam usia akhir masa anak-anak ini biasanya mereka memilih teman  yang dianggap serupa dengan dirinya sendiri dan memenuhi kebutuhan. Yang terjadi dalam komunitas anak Pondok Eljireh justru bertolak belakang, Pertama, mereka tidak dapat memilih teman, namun dipilihkan. Kedua, teman-teman mereka ini ternyata tidak serupa dengan diri mereka, baik dari segi usia, intelektualitas, penampilan, dll. Hal ini menjadi sebab timbulnya perilaku overacting , baik yang ditunjukkan dengan ekspresi kegirangan yang spontan (di bawah 10 tahun) atau hanya dengan ekspresi diam (anak di atas 10 tahun).

c. Interaksi dan Komunikasi di antara anak-anak Pondok Eljireh

            Pada awal kedatangan mereka, tidak ada interaksi dan komunikasi yang dekat antara satu anak dengan yang lainnya. Kalau pun ada, interaksi dan komunikasi di antara mereka diwarnai perilaku negatif, misalnya toki-toki (memukul kepala) atau kebiasaan lain yang mereka bawa dari Halmahera yan cenderung keras. Beberapa anak masih menganggap anak lain “bukan siapa-siapa” mereka sehingga pertengkaran di antara anak-anak pun tidak dapat dihindari. Menurut Hurlock (Ibid) anak-anak seusia mereka relatif menunjukkan perlakuan yang kurang baik kepada anak-anak yang bukan anggota kelompok mereka.

            Fenomena yang kami amati menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Karena hidup dalam jadwal dan aktivitas yang hampir sama setiap harinya berarti mereka telah terikat dalam sebuah kelompok yang memiliki afilitas sama. Dengan kegiatan itu pula, mindset mereka dalam memandang anak-anak Pondok Eljireh lainnya perlahan-lahan bergeser. Sekarang mereka menjalani kehidupan sehari-hari di Pondok Eljireh sebagai sebuah keluarga. Anak-anak yang besar mengayomi yang kecil. Misalnya memandikan mereka dan mengantarkan mereka ke sekolah.

            Anak-anak menggunakan kegiatan-kegiatan rutin seperti makan, ibadah, gotong royong, dsb untuk mengembangkan komunikasi yang intens di antara mereka sendiri. Komunikasi tersebut diantaranya terwujud melalui ungkapan-ungkapan saling mengingatkan misalnya,“kayak mana seprai kau belum kau rapikan, cepat! Nanti Kak Agnes marah”. Ungkapan-ungkapan seperti ini menunjukkan bahwa dalam diri mereka telah tumbuh rasa kepedulian terhadap saudara mereka, misalnya karena mereka tidak ingin melihat teman mereka dihukum.

            Cara mereka bermain dan bercanda pun menunjukkan bahwa mereka merasa saling memiliki sebagai saudara satu sama lainnya. Terkadang mereka masih berbicara dengan bahasa ibu mereka atau dengan celotehan saling mengejek. Anak-anak yang masih kecil sering  bercanda dengan cubitan-cubitan kecil atau perilaku bermain yang sewajarnya dilakukan anak seusia mereka. Namun, anak-anak yang berusia lebih tua sudah tidak menampakkan ekspresi spontan layaknya adik-adik mereka. Pola komunikasi di antara mereka – yang lebih tua ini – cenderung lebih tertata, lebih halus bahkan mereka cenderung banyak diam.

           

 

 

Aspek yang melatarbelakangi proses komunikasi di pondok Eljireh.

            Menurut Ashadi Siregar (Siregar, 1994: 25), setiap masyarakat pasti memiliki hal-hal yang spesifik untuk menyebarluaskan informasi. Demikian halnya dengan Pondok Eljireh. Mereka menggunakan media komunikasi berupa kegiatan-kegiatan yang sudah terjadwal sehari-hari. Dengan media komunikasi sosial yang sengaja dirancang ini, tentunya berimplikasi pada sejumlah output – terlepas dari sesuai yang diharapkan atau tidak – seperti yang telah dipaparkan dalam uraian di atas. Menurut peneliti, munculnya komunikasi yang demikian dilatarbelakangi oleh beberapa aspek, yakni:

  1. a.    Aspek kultural masyarakat Halmahera

Masyarakat Halmahera umumnya memiliki watak yang keras dan individualistis. Watak khas masyarakat Halmahera ini terlihat dalam bentuk pendidikan dan pengasuhan yang diterapkan orang tua kepada anaknya. Sangat jarang terjadi komunikasi antara orang tua dan anak. Hal ini dikarenakan orang tua menghabiskan sebagian besar waktu mereka di kebun yang letaknya jauh dari rumah. Tak mengherankan jika mereka mengabaikan anak-anak mereka, terutama pendidikan dan perkembangan psikologi anak. Kalaupun terjadi komunikasi, menurut pengasuh, percakapan antara anak dan orang tua di daerah asal mereka dapat diibaratkan seperti anjing dan kucing.

Kondisi minimnya komunikasi orang tua-anak ini diperparah dengan kekerasan yang acapkali menyertai komunikasi antara orang tua-anak, orang tua kerap memukuli anaknya sebagai pelampiasan kemarahan mereka. Contohnya jika ayah kalah dalam berjudi, sesampainya di rumah si ayah akan memukuli istri dan anaknya sebagai pelampiasan kemarahannya. Sedikitnya waktu yang dimiliki orang tua untuk memberikan perhatian kepada anaknya membentuk pola asuh anak yang diterapkan di daerah asal mereka menjadi pola asuh yang pada umumnya membiarkan anak berbuat semaunya tanpa ada kontrol dan pengawasan. Misalnya dalam kegiatan sehari-hari, anak-anak bebas bermain di sungai, dan di alam bebas tanpa ada batasan-batasan, sehingga perilaku anak terkesan liar. Pola pengasuhan dan pendidikan yang diterapkan oleh kebanyakan orang tua di Halmahera ini,kemudian menjadi budaya yang mendarah daging yang dimiliki oleh hampir setiap anggota masyarakat Halmahera. Pola pendidikan ini juga membentuk anak memiliki watak yang keras dan liar.

Dari keterangan penduduk dimana warga Halmahera yang mengungsi pasca konflik dapat disimpulkan bahwa orang-orang Halmahera memiliki karakter yang malas. Keluhan utama yang ditujukan kepada para pengungsi pada umumnya adalah mereka malas dan hanya duduk menunggu pembagian bantuan (Manado Post 2001a). Hal ini mungkin disebabkan oleh budaya yang berkembang di Halmahera, yakni budaya “milik bersama”. Maksudnya adalah kebanyakan sumber daya alam yang terdapat di sana adalah milik bersama masyarakat  Halmahera. Setiap anggota masyarakat memiliki hak yang sama  untuk mengeksploitasi semua sumber daya alam yang ada. Oleh karena berkembangnya budaya demikian, tidak ada iklim persaingan yang kondusif di antara warga Halmahera, sehingga mereka lebih cepat merasa puas dengan pekerjaan mereka.

Pengetahuan latar belakang inilah yang membekali pengasuh untuk mengupayakan komunikasi yang sesuai dalam penanganan anak-anak ini. Paparan mengenai pola-pola komunikasi di antara penghuni Pondok Eljireh di muka tadi mengindikasikan bahwa para pengasuh lebih banyak menerapkan pola komunikasi satu arah untuk mengirimkan pesan berupa nilai-nilai kepada anak-anak Pondok Eljireh sesuai dengan latar belakang budaya yang dimiliki anak-anak tersebut.

  1. b.    Aspek Status anak-anak Pondok Eljireh

Anak-anak Pondok Eljireh memiliki status sosial yang sama sekali berbeda dengan anak-anak sebaya di lingkungan tempat mereka berdomisili saat ini. Status mereka sebagai anak-anak korban konflik,  yang sekarang dipelihara oleh sebuah institusi tentu juga mendorong terjadinya pola komunikasi yang cenderung tertutup, ekstrimnya terisolasi.

Hurlock mengungkapkan bahwa anak-anak seusia mereka ini selalu mencari dan memilih teman yang sedikit banyak memiliki karakteristik yang sama dengan dirinya. Tentunya akan sangat kesulitan menemukan teman sebaya atau peer group semacam ini di lingkungan luar pondok. Oleh karenanya, komunikasi sosial di antara anak-anak lebih banyak dihabiskan di dalam Pondok Eljireh melalui kegiatan sehari-hari mereka. Catatan penting disini adalah anak-anak ini secara tidak langsung mengalami persoalan penerimaan lingkuan luar terhadap diri mereka terkait status tersebut.

  1. c.    Aspek Kepentingan

Dalam hal ini aspek kepentingan turut melatarbelakangi terjadinya komunikasi. Aspek kepentingan ini terlihat dari tujuan berdirinya Pondok Eljireh. Telah dipaparkan di atas bahwa pendirian pondok ini tidak lain karena sebuah visi, yakni menyembuhkan traumatisme anak-anak korban konflik di Halmahera. Salah satu misi mereka adalah menginternalisasikan nilai-nilai baru dalam kehidupan anak-anak korban konflik tersebut. Nilai-nilai itu antara lain kerohanian, kebersamaan, kepedulian dan kedisiplinan. Dengan demikian, komunikasi yang terjadi, baik disengaja ataupun tidak, merupakan pewujudnyataan visi yang dimiliki tersebut.

Sedangkan aspek kepentingan dari sudut pandang anak-anak  Pondok Eljireh ini adalah mengharapkan pendidikan yang lebih baik. Menurut pengakuan beberapa  anak, mereka mau dibawa ke Jogjakarta dan diasuh di Pondok Eljireh karena mereka dijanjikan, baik oleh orang tua maupun pihak pengurus pondok, akan mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang lebih baik. Sebagai realisasi  janji-janji yang sudah ditanamkan dalam diri mereka tersebut, mereka berupaya untuk membentuk komunikasi sedemikian rupa, yakni melaksanakan pola-pola yang sudah ditetapkan dalam kehidupan mereka oleh pihak Pengurus pondok.

Beberapa kepentingan tersebut setidaknya telah mempengaruhi proses komunikasi yang terjadi dalam Pondok Eljireh. Komunikasi tersebut pada akhirnya membawa implikasi dalam perkembangan psikologis maupun fisik mereka yang mengarah pada perubahan sosial, paling tidak dalam level kelompok mereka.

 

Perkembangan Komunikasi dalam Pondok Eljireh

Berbagai pelajaran diberikan pengasuh pondok kepada anak-anak untuk dapat menanamkan nilai-nilai positif. Mulai dari cara makan yang benar, hingga cara menyapa orang lain, mulai dari cara menggosok gigi hingga cara mencintai binatang peliharaan. Kepada setiap anak ditanamkan nilai-nilai kerohanian, kebersamaan, kepedulian dan kedisiplinan. Nilai kerohanian ditanamkan dengan mengadakan ibadah rutin setiap hari dan memberikan nasehat serta problem solving kepada anak-anak sesuai dengan ayat-ayat Alkitab, “Tuhan Yesus ajarkan…….”, demikian seringkali dikatakan pengasuh kepada anak-anak setiap kali anak-anak menghadapi masalah. Penanaman nilai kebersamaan dilakukan dengan membuat jadwal piket yang diberlakukan bagi setiap anak, besar maupun kecil. Dalam melakukan setiap tugasnya diberitahukan kepada setiap anak untuk membantu teman lainnya. Anak-anak juga diajarkan bahwa, ada kehidupan lain di luar kehidupan mereka yang membutuhkan uluran tangan mereka yang lebih mampu daripada pemilik kehidupan tersebut. Beberapa kali yayasan Pondok Eljireh melakukan bakti sosial bagi anak-anak jalanan atau anak-anak panti asuhan lain. Hal ini dilakukan untuk menanamkan nilai kepedulian kepada anak-anak. Anak-anak diajarkan untuk peka dan peduli kepada sesamanya yang lebih membutuhkan. Sedangkan nilai kedisiplinan ditanamkan dengan mengadakan jadwal tetap setiap harinya. Bangun tidur, berbenah, sekolah, tidur/istirahat siang, ibadah, belajar dan tidur malam untuk memulihkan tenaga dan kembali lagi melakukan aktivitas yang sama keesokan harinya. Penanaman nilai kedisiplinan ini sangat ketat; diberlakukan hadiah bagi anak-anak yang taat pada setiap jadwal dan peraturan yang telah dibuat, dan sebaliknya ada sanksi bagi anak yang tidak patuh.

Penanaman nilai-nilai dilakukan terus-menerus secara kontinue dan kuat setiap harinya sejak anak-anak mulai tinggal di Pondok Eljireh yaitu tahun 2002. Anak-anak kemudian terbiasa dengan pola baru yang berbeda dengan pola dan gaya hidup lamanya di Halmahera. Meski demikian masih ada beberapa anak yang tetap memiliki kebiasaan lama, yang dibawanya dari asalnya di Halmahera. Anak-anak penghuni Pondok Eljireh pada awalnya tidak semua saling kenal. Namun dengan kebersamaan dalam waktu yang relatif lama mereka kemudian semakin dekat secara emosi, bahkan beberapa anak yang lebih tua telah dapat memperlakukan anak yang lebih muda seperti saudara (adik)nya. Pada awal kedatangannya di Jogjakarta mereka juga mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, terutama teman-teman sekolahnya. Perbedaan latar belakang budaya yang tajam antara anak-anak yang dari Halmahera dengan anak-anak penduduk asli menjadi kesulitan tersendiri bagi anak-anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Karakter dan kepribadian anak-anak Jogjakarta yang halus sangat sulit menerima karakter anak-anak Halmahera yang keras dan individualis. Karena perbedaan karakter ini, acap kali anak-anak mendapat penolakan dari teman-temannya. Namun dengan berjalannya waktu, pengenalan anak-anak akan lingkungan barunya dan usaha kerasnya beradaptasi serta nasehat-nasehat dan nilai-nilai baru yang ditanamkan pengasuh-pengasuhnya,anak-anak ini mengalami perubahan dalam hubungan sosial dan lingkungannya. Beberapa anak bahkan telah memiliki sahabat di sekolah.

Anak-anak telah mengalami banyak perubahan dalam hal hubungan sosial dan lingkungan sekitarnya. Bukan hanya dengan teman sekolahnya saja, namun juga dengan tetangga yang tinggal di dekat pondokannya. Meski keadaan pondok sangat tertutup dan membuat akses anak untuk bergaul dengan lingkungan sekitarnya terbatas, anak-anak telah mampu membawa dirinya bergaul dengan orang lain. Namun demikian, kemampuan bersikap baik terhadap orang lain tersebut tidak teraktualisasi baik karena sangat tertutupnya podokan ini dengan lingkungan luarnya. Yang terjadi kemudian adalah anak-anak sangat exited ketika ada orang lain atau tamu yang berkunjung ke pondok, dan akan sulit bagi anak-anak untuk melepas kepergian tamu tersebut.

Catatan Akhir

            Berbasis tradisi kritis, Deetz (Griffin, 2003: 284-289) sebelumnya telah melakukan kritik terhadap komunikasi yang terjadi dalam sebuah korporasi. Isu utama yang dia angkat dalam essaynya adalah menelisik kembali pandangan mengenai komunikasi sebagai transmisi. Dia mengungkapkan bahwa selama komunikasi masih dianggap sebagai transmisi informasi, maka praktek komunikasi dalam sebuah organisasi dinilai tidak sehat. Hal tersebut ditengarai oleh adanya dominasi dalam pengambilan keputusan yang kemudian dapat mereduksi inovasi, kualitas dan keadilan dalam kebijakan korporasi tersebut.

            Mengacu pada penelitian yang telah dilakukan Deetz ini, kami juga ingin mengajukan beberapa pandangan berkenaan dengan praktek komunikasi sosial yang terjadi di lingkungan Pondok Eljireh tersebut. Kami sependapat dengan visi yang dimiliki pondok ini, yakni berperan sebagai tempat pemulihan traumatisme anak-anak korban konflik. Namun demikian, ada beberapa hal dalam praktek komunikasi yang mereka lakukan menggelitik otak kami untuk berpikir kritis. Terlepas dari apakah komunikasi ini efektif atau tidak, baik atau buruk, kami berasumsi bahwa komunikasi sosial yang terjadi di lingkungan Pondok Eljireh tersebut merupakan komunikasi sosial satu arah yang sarat akan dominasi dari pihak yang minoritas yaitu pengasuh.

Berdasarkan pendekatan dalam tradisi  ini, kami meletakkan pandangan bahwa komunikasi adalah transmisi informasi. Model yang tepat untuk menggambarkan pola komunikasi yang terjadi di antara penghuni Pondok Eljireh adalah model Shannon Weaver. Menurut Dedy Mulyana (Mulyana, 2003: 138) , model komunikasi Shannon Weaver ini mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan suatu pesan untuk dikomunikasikan  dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Sasaran (destination) adalah (otak) orang yang menjadi tujuan pesan tersebut. Walaupun model komunikasi seperti ini dianggap sudah tidak relevan, namun kenyataannya masih diterapkan dalam komuniaksi organisasi dan korporasi (Deetz dalam Griffin, 2003: 286).

Mengacu pada model ini, kami mengajukan kritik bahwa ternyata di dalam proses komunikasi sosial yang sengaja diciptakan melalui berbagai media – aktivitas anak sehari-hari– sesuai jadwal itu terdapat dominasi komunikasi yang kemudian berimplikasi pada pembatasan-pembatasan komunikasi sosial itu sendiri. Dominasi komunikasi yang dimaksud di sini adalah komando atau instruksi dari pengasuh, baik secara  verbal atau non verbal, langsung atau melalui perantara. Dominasi dalam pembentukan iklim komunikasi sosial di pondok ini tercermin dalam beberapa hal.

Pertama, strategi yang digunakan. Pengasuh menggunakan strategi untuk mengontrol perilaku dan komunikasi anak-anak dengan sistem penjadwalan kerja sehari-hari dan berbagai peraturan yang ditetapkan di pondok. Penjadwalan dan peraturan inilah yang kemudian mengendalikan semua aktivitas di pondok. Menurut pengasuh cara seperti ini efektif untuk mendidik kedisiplinan mereka.Akan tetapi, berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang anak,diperoleh informasi bahwa  ternyata beberapa di antara merka masih belum bisa merasakan kenyamanan dengan komunikasi seperti ini. Mereka merasa dikekang. Bahkan, sebenarnya mereka ingin pulang. Kondisi keterbatasan dan kebutuhan akan ruang gerak bebas yang dialami  anak-anak ini merupakan salah satu fase dalam proses perkembangan psikologi anak.

Sebenarnya menjelang berakhirnya  masa kanak-kanak, anak-anak kemudian menbentuk konsep diri yang ideal: anak ingin menjadi seperti tokoh ideal itu. Anak membangun ego ideal, yang menurut Van den Daele “berfungsi sebagai standar perilaku umum yang diinternalisasikan” (Hurlock, hal 172) . Hal ini tentunya berlaku pula bagi anak-anak penghuni pondok yang notabene masih berusia berkisar 7-15 tahun yang termasuk pada masa akhir kanak-kanak menuju masa remaja awal sesuai dengan tahapan psikologi perkembangan anak. Pada tahapan inilah anak-anak sedang melewati suatu masa yang disebut masa pencarian identitas diri. Menurut Erikson,”Identitas diri “ berarti perasaan dapat berfungsi sebagai seseorang yang tersendiri tetapi yang berhubungan erat dengan orang lain.Ini berarti menjadi seseorang dari kelompok tetapi sekaligus memiliki ciri –ciri yang berbeda dengan kelompok yang merupakan kekhususan dari individu (Hurlock,hal 173-174). Banyak hal yang akan dilakukan oleh anak-anak untuk memperoleh identitas diri tersebut. Mulai dari belajar bertindak mandiri sampai dengan melepaskan diri dari kedekatan dengan keluarga sebagai tempat sosialisasi pertamanya dan mulai mencari komunitas sebayanya atau peer group. Tentunya , pola komunikasi yang mengikat (baca:dominan) akan bertentangan dengan kondisi psikis anak-anak tersebut yang membutuhkan kebebasan.

            Komunikasi yang terbangun di Pondok Eljireh dapat dikatakan telah membentuk suatu identitas individu bagi anak-anak sebagai individu yang terikat pada suatu sistem nilai yang sangat mempengaruhi konsep diri yang dimiliki masing masing anak tersebut. Mengapa demikian? Konsep diri yang terbentuk dalam diri anak-anak ini terjadi karena adanya interaksi dan komunikasi yang terjalin antara pengasuh dan anak-anak. Artinya, pengasuh telah menjadi orang yang paling berpengaruh bagi anak-anak. Goerge Herbert Mead (1934) menyebutnya signifacant others –orang lain yang sangat penting. Komunikasi yang disampaikan baik verbal maupun non verbal  pengasuh sebagai significant others akan sangat berpengaruh baik positif maupun negatif dalam diri masing-masing anak. Selain itu reference group yang seharusnya juga berperan  sebagai pihak yang dapat mempengaruhi konsep diri anak pondok tidak terlalu berdampak dikarenakan sebagian besar waktu yang dihabiskan anak terbatas pada lingkungan pondokan. Dengan demikian , bukan tidak mungkin konsep diri anak-anak pondok ini adalah hasil penciptaan dari dominasi komunikasi pengasuh.

            Selain persoalan konsep diri, dominasi komunikasi oleh pengasuh juga mempengaruhi pemenuhan kebutuhan akan aktualisasi diri anak. Abraham Maslow (Jalaluddin Rakhmat, hal 37) mengungkapkan bahwa manusia memiliki beberapa kebutuhan mendasar yang peranannya dalam membentuk perilaku sosial  sangat menentukan. Kebutuhan –kebutuhan tersebut yaitu;

  1. Kebutuhan akan rasa aman (safety needs)
  2. 2.    Kebutuhan akan keterikatan dan cinta (belongingness and love needs)
  3. 3.    Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs)
  4. Kebutuhan untuk pemenuhan diri (self actualization)

Kebutuhan–kebutuhan inilah yang menjadi motif seseorang melakukan suatu tindakan tertentu didalam hidupnya sebagai upaya menjaga keberlangsungan hidupnya. Anak-anak memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan di pondok sekalipun mungkin tindakan-tindakan yang harus dilakukan tidak disukainya. 

Kedua, involvement. Masih mengacu pada penelitian Deetz sebelumnya, kami berasumsi bahwa komunikasi sosial yang terjadi di antara anak-anak Pondok Eljireh sebagian besar melibatkan peran pengasuh dalam pengambilan keputusan. Memang benar, terdapat aktivitas yang bersifat komunikasi dua arah dalam pengertian terbukanya forum berdiskusi diantara pangasuh dengan anak-anak untuk mengevaluasi aktivitas yang berlangsung maupun membahas persoalan-persoalan yang muncul di dalam pondok maupun diluar (lingkungan sekolah dan sekitarnya). Kendati demikian, pengambilan keputusan pada akhirnya tetap berpusat pada pengasuh. Hal ini tampak  pada keterbatasan anak dalam menentukan apa yang mereka inginkan seperti pilihan tempat belajar (sekolah) , akses terhadap media massa (hanya diperbolehkannya menonton film pilihan bukan siaran televisi) ,dan dibatasinya interaksi dengan dunia luar (adanya seleksi tamu-tamu yang diperbolehkan berkunjung).

Menurut Hurlock, metode pelatihan anak yang otoriter pada masa akhir anak-anak tidak seharusnya diterapkan. Hal ini dikarenakan anak sedang mencari identitas diri sebagai suatu fase dalam perkembangan  psikologis mereka sehingga diperlukan ruang gerak lebih luas untuk dapat beraktualisasi diri. Dengan demikian ,keterlibatan yang dominan dari pengasuh memungkinkan terjadinya frustrasi pada anak yang merasa gagal beraktualisasi.

 

 

 

Hidup di dalam suatu komunitas memang selalu melahirkan konsekuensi, baik positif maupun negatif yang harus kita tanggung. Namun, sikap bijaksana, inovatif, kreatif selalu dituntut untuk mengembangkan komunikasi di dalam suatu komunitas tersebut. Setelah menelisik fenomena komunikasi sosial yang terjadi di dalam komunitas Pondok Eljireh, serta merujuk beberapa referensi mengenai perkembangan psikologi anak – sesuai usia rata-rata anak-anak Pondok Eljireh– maka muncul satu pertanyaan besar sebagai kritik dari kajian ini. Apakah komunikasi dominasi yang disetting sebagai upaya menyembuhkan traumatisme anak-anak korban konflik ini memang telah mempertimbangkan aspek perkembangan psikologi anak, sehingga outputnya kelak adalah perubahan sumber daya manusia anak-anak Halmahera seperti yang diharapkan?

REFERENSI

 

 Griffin, EM. 2003. A First Look at Communication Theory. _5th ed. McGrawHill Inc.: USA

Hurlock, Elisabeth B. 1999. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. PT. Erlangga: Jakarta

Little John, Stephen W. _7th ed. 2002. Theories of Human Communication. Wadsword Group: USA

Mulyana, Deddy. 20003. Pengantar Ilmu Komunikasi. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung

Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi. PT. Remaja Rosdakarya:

            Bandung

Siregar, Ashadi. 1994. Diktat Mata Kuliah Komunikasi Sosial. Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIPOL UGM: Jogjakarta

Soetarno, R. 1989. Psikologi Sosial. PT. Kanisius: Jogjakarta

www.google.com/Mer-C

www,google.com/tsunami, trauma dan luka psikis/ Prof. Dr. Soetardjo A. Wiramihardja

 

 

23 responses to this post.

  1. Posted by Septryanda Jaya on May 7, 2011 at 10:17 am

    thx miss..semoga observasi kelompok nya berguna untuk kehidupan real…

    Reply

  2. Posted by Felicia Wonodihardjo on May 22, 2011 at 2:27 am

    tanggal 20 Mei hari jum’at kmarin observasi bersama kelompok ke taman bungkul….

    Reply

  3. Posted by irene anggraini on May 22, 2011 at 12:16 pm

    kelompok :
    Irene
    Harold
    Ricky
    Tommy

    Kamis, 19 Mei 2011
    -pergi ke tempat latihan HBS di daerah villa bukit mas untuk melakukan wawancara anggota dan pengambilan gambar saat latihan.

    Reply

  4. Posted by irene anggraini on May 22, 2011 at 3:36 pm

    oke miss:)) *jia yoo*

    Reply

  5. kelompok :
    Herlina
    Felicia
    Emilia
    Caroline
    Tanggal 20 Mei 2011, tempat : depan KFC, Darmo, observasi ke 2 dan sudah meliput sebagian aktivitas(video).

    Reply

  6. Posted by Rosalia on May 23, 2011 at 5:10 am

    progress report kelompok :

    12 Mei 2011, observasi pertama di THR Ludruk Irama Budaya
    18 Mei 2011, observasi kedua di Pulo Wonokromo
    19 Mei 2011, rapat internal kelompok
    21 Mei 2011, observasi ketiga serta mendokumentasikan di THR Ludruk Irama Budaya
    23 Mei 2011, eveluasi internal kelompok dilanjutkan dengan obeservasi keempat di Pulo Wonokromo

    Anggota yang observasi :
    Rosalia ( 51409140 )
    Cisilia ( 51409145 )
    Ferlina ( 51409089 )
    Luna ( 51409129 )
    Anggota yang mengedit video dan foto :
    Priscilia Johana

    Thx. GBU😀

    Reply

  7. Posted by Septryanda Jaya on May 24, 2011 at 1:02 am

    Kelompok HDCI :
    progress :
    – sudah mengambil video kegiatan HDCI saat pergi ke Madiun dan acara kumpul bersama di Sutos
    – melakukan wawancara dan pendekatan dengan anggota HDCI

    Nama kelompok :
    Peter
    Oey Michelle
    Monica Christy
    Septryanda Jaya
    Nielsen D.H
    Jeffrey Senjaya
    Julius Sebastian
    Donny Christianto

    Reply

  8. Posted by livia on May 24, 2011 at 1:09 am

    kelompok:
    Ria Oktavia 51407082
    Marilyn Antoni 51408083
    Fanny Justicia 51409015
    Rosa Oktaviani 51409016
    Livia Adikoesoemo 51409021
    Danar Abdi 51409137
    Kristianto Agung 51409128

    progress report :
    tanggal 17 Mei 2011, Selasa kemarin kita sekelompok merekam kegiatan salah satu anggota komunitas musik virtual “A-Melody” yang ada di Indonesia, serta melakukan observasi & wawancara terhadap narasumber mengenai kegiatan-kegiatan yang ia lakukan berkaitan dengan komunitas musik virtual “A-Melody”
    sekarang sedang melakukan proses pengeditan video dan pengerjaan bab4 jurnal🙂
    mohon dukungan dan doanya ya Mi ^^

    Thank You & Gbu..

    Reply

  9. Posted by livia on May 24, 2011 at 1:11 am

    kelompok:
    Ria Oktavia 51407082
    Marilyn Antoni 51408083
    Fanny Justicia 51409015
    Rosa Oktaviani 51409016
    Livia Adikoesoemo 51409021
    Danar Abdi 51409137
    Kristianto Agung 51409128

    progress report :
    tanggal 17 Mei 2011, Selasa kemarin kita sekelompok merekam kegiatan salah satu anggota komunitas musik virtual “A-Melody” yang ada di Indonesia, serta melakukan observasi & wawancara terhadap narasumber mengenai kegiatan-kegiatan yang ia lakukan berkaitan dengan komunitas musik virtual “A-Melody”

    sekarang sedang melakukan proses pengeditan video dan pengerjaan bab4 jurnal🙂

    mohon dukungan dan doanya ya Miz ^^

    Thank You & Gbu..

    Reply

  10. Posted by kelompok k-j-tsu on May 24, 2011 at 1:56 am

    progress yang sudah kami lakukan:
    – mengumpulkan sumber untuk pembuatan proposal.
    – membuat janji dengan kelompok k-j-tsu.
    – berkumpul bersama dan melakukan pendekatan secara personal kepada kelompok ini sudah beberapa kali. ikut berkumpul bersama sama dengan mereka.
    – mengambil foto dan video sesuai scene.
    – melakukan wawancara dan observasi secara langsung.
    – mengikuti dan mendokumentasikan event yang mereka ikuti dalam “Global Village”.

    – nama anggota:
    Edward Kasimiritus
    Moses Donovan
    David Marshall
    Fransisca Michellida
    Cynthia Devi
    Anneke Mathilda
    Ires Mariska
    Hulda Grace

    Reply

  11. Posted by JANUARD ERASMUS on May 24, 2011 at 2:38 am

    kelompok Renactor ” pecinta surabaya ”
    anggota :
    1. sherly kurniasari
    2. yessie angelia
    3. winda puspitasari
    4. fransisca daisy
    5. yolanda hana
    6. jeaneth sari lewerisa
    7. reny djajanti malute
    8. januard ch. erasmus

    yang telah dilakukan :
    * sudah observasi komunitas yang menjadi objek penelitian.
    * sudah melakukan pengambilan gambar serangkaian kegiatan dan keseharian komunitas tersebut baik secara video ataupun foto.
    * sudah menyusun creative team creative sebagai panduan untuk membuat video dokumentasi profil dan script presenter.
    * sudah melakukan penyuntingan atau pengambilan gambar video presenter di 7 tempat di surabaya.
    * sudah mengumpulkan video-video yang telah didokumentasikan.
    * sudah melakukan sedikit wawancara sebagai bahan narasi video.
    sudah membuat script narasi dan pemilihan lagu backsound.

    yang sedang atau akan dilakukan :
    * mengedit video menjadi satu kesatuan dokumentasi profil.
    * membuat paper analisa sebagai bentuk laporan tertulis.
    * mengambil gambar kegiatan komunitas tanggal 28 di sutos.

    thax Miss,,,,,,
    GBU

    Reply

  12. Komunitas Tarot Full Moon Surabaya

    Group members:
    Gabriel Evelin
    Melarissa B.S.
    Pratiwi Putri
    Lidya Rosalia
    Dewi Suryani
    Debby Natalia
    Patricia Rebecca

    What we’ve done so far:
    VISITATION
    1st visit – introduction and observed our informants, took few shoots of the people and their activities, brief interview with the founder abt the community history.
    2nd visit – did a further observation of the community members, interviewed few members abt the community communication, getting to know the characteristics of the members that may affect their communication in group.

    THE REPORT
    We’ve written short description abt the community, and analyze the group connected to psychological communication abt groups.

    Next schedule:
    – Do visitation for 2-3 times within this week n observe thoroughly the communication system in group like what we discussed with miss Prime this morning
    – Take shots of videos n pictures needed
    – Compile a documentary film
    – Finish the report!🙂

    Thanks a lot miss!
    Gbu🙂

    Reply

  13. miss kita kemarin komen kok belum muncul ya?

    Reply

  14. Rany Rosaria / 51409029
    Lusi Ratna Sari / 51409047
    Georgius Danus Astro / 51409048
    Alodia L Chandra / 51409052
    Felicia Setyono / 51409056
    Ruthantika / 51409122
    Lievita Santoso / 51409134
    Marta Santi / 51409141

    Progress Report:
    -mengikuti kegiatan kelompok yang diteliti, baik saat berkumpul, makan bersama, mempersiapkan show, membuat perlengkapan show, dan saat show.
    -melakukan wawancara kepada anggota kelompok yang diteliti
    -melakukan dokumentasi dalam bentuk video dan foto
    -menyelesaikan pembuatan video
    -membuat artikel analisis

    thanks miss, GBU😀

    Reply

  15. Posted by irene anggraini on May 29, 2011 at 1:27 pm

    irene
    harold
    ricky
    tommy

    tgl 28 Mei 2011
    pergi ke tempat latihan HBS untuk melakukan wawancara yg kedua dan observasi lapangan.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: