KONSEPTUALISASI, VARIABEL, DAN OPERASIONALISASI

Disusun untuk Mata Kuliah Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif

Oleh: K. B. Primasanti

 

The Technical term for those mental images, those sheets of paper in our mental file drawers, is conception (Baxter and Babbie, 2004: 109). Yang disebut konsepsi adalah gambaran tentang sesuatu yang berada dalam pikiran kita. Bukan perkara yang mudah untuk menggambarkan sesuatu yang ada di pikiran, mengingat setiap orang pasti memiliki konsepsi yang berbeda mengenai sesuatu. Misalnya, konsepsi mengenai “cinta”. Setiap orang pasti memiliki gambaran mental masing-masing mengenai “cinta”. Untuk itu, diperlukan term tertulis yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan sebuah konsepsi. Term atau istilah ini haruslah mengandung segala sesuatu yang bisa diamati sebagai tanda untuk menyepakati konsepsi tersebut. Sebagai contoh, konsepsi mengenai “cinta” tadi, ketika akan menggambarkan “cinta” kepada orang lain, pasti menyebutkan cirri-ciri atau tanda-tanda tertentu, misalnya cinta itu manis, cinta itu pengorbanan, cinta itu bisa dirasakan semua orang, dll. Dengan adanya tanda-tanda yang dapat diamati ini, maka konsepsi akan dapat disepakati bersama. Proses member tanda pada konsepsi inilah yang disebut dengan konseptualisasi (conceptualization). Proses konseptualisasi ini menghasilkan sebuah term  yang disebut dengan konsep (concept). Dalam contoh tadi, kita bisa menyimpulkan bahwa “cinta” (konsep) adalah sesuatu yang bersifat manis serta membutuhkan pengorbanan dan dapat dialami semua orang (konseptualisasi).

                Day to day communication usually occurs through a system of vague and general agreements about the use of term (Baxter and Babbie, 2004: 110). Meskipun sudah memiliki konsep (yang telah disepakati bersama), tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama mengenai konsep tersebut. Baxter and Babbie mengatakan bahwa setiap hari proses komunikasi berusaha memperjelas penggunaan konsep tertentu. Semakin spesifik tanda yang diberikan pada suatu konsep (konseptualisasi), maka semakin mudah konsep tersebut disepakati bersama. The product of this conceptualization process is the specification of one or more indicators of what we have in mind, indicating the presence or absence of the concept we’re studying. Misalnya tentang konsep “cinta” di atas. Untuk menjadikan konsep “cinta” ini semakin detil, maka diperlukan beberapa indikator: mengutamakan kepentingan orang daripada kepentingan diri sendiri, memaafkan sekalipun telah berkali-kali melakukan kesalahan, memberi walaupun diri sendiri berkekurangan, dll. Hal ini bisa saja disepakati sebagai indikator dari sebuah konsep bernama “cinta”. Indikator ini akan berfungsi secara spesifik jika dilekatkan pada konteks tertentu. Dalam hal ini, misalnya, cinta yang dimaksud adalah cinta dalam konteks umum (keluarga, pasangan, pertemanan), sehingga indikator tersebut dapat digolongkan sebagai indikator dari “cinta”. Namun, dalam konteks yang lain, misalnya “cinta” seorang pejuang terhadap negrinya, indikatornya mungkin saja berbeda, baik dalam hal isi maupun jumlahnya. Dengan demikian, indikator dari sebuah konsep selalu menyesuaikan pada konteks pemakaiannya, secara akademis indikator menyesuaikan pada bidang akademik teoritik yang dirujuk.  

                Indikator yang dirujuk ini pun acapkali belum memenuhi konsepsi yang sama antara satu orang dengan yang lainnya. Maka, setiap indikator harus dipecah lagi menjadi beberapa tanda yang lebih spesifik yang disebut dengan dimensi. Dimensi-dimensi ini kemudian dikelompokkan dalam grup-grup tertentu. The technical term for such grouping is dimension: a specific aspect or facet of a concept (Baxter and Babbie, 2004: 111). Misalnya, “cinta” bisa dispesifikkan dalam dua indikator, yakni cinta berdasarkan perasaan dan cinta berdasarkan tindakan. Maka perasaan dan tindakan ini merupakan indikator yang menuntut dimensi-dimensi yang lebih spesifik. Misalnya, dalam indikator perasaan terdapat dimensi: tidak berhenti memikirkannya, selalu merasa berbunga-bunga, dll. Pada indikator tindakan, terdapat: selalu memberinya bunga, selalu menjemputnya, dll. Dengan demikian, konsep mengenai “cinta” menjadi sangat spesifik dan dapat disepakati karena memuat dimensi-dimensi tertentu.

                Sebuah konsep yang tidak hanya didefinisikan atau dikonseptualisasikan, melainkan bertujuan untuk diukur, disebut dengan variabel. Bila nilai-nilai tertentu kita berikan pada proses konseptualisasi, maka konsep akan menjadi variabel. Dengan kata lain, variabel adalah konsep yang akan (atau dapat) diukur dalam suatu penelitian. Jadi, sebuah konsep belum tentu menjadi variabel yang akan diukur dalam suatu penelitian. Variabel adalah hasil dari konseptualisasi yang diberi nilai-nilai tertentu. Nilai-nilai ini muncul dari adanya dimensi-dimensi yang dilekatkan pada konsep tersebut sehingga dapat diukur.

                Proses perubahan dari konseptualisasi menuju pencarian dimensi-dimensi tertentu ini bertujuan untuk menciptakan alat ukur yang tepat untuk mengukur sebuah konsep. Proses dari sebuah konsep menjadi alat ukur yang tepat inilah yang disebut dengan operasionalisasi. Operationalization results in a commitment to a specific set of questionnaire items that will represent the concepts under study (Baxter and Babbie, 2004: 113). Di bawah ini adalah diagram yang menunjukkan langkah-langkah proses pengukuran:

Conceptualization à nominal definition à operational definition à measurement in the real world

Setelah proses ini dilakukan, maka akan didapat sebuah skala pengukuran (level of measurement) untuk sebuah konsep tertentu. Skala ini dapat berbentuk nominal, ordinal, interval, maupun rasio[1]. Skala inilah yang akan digunakan sebagai nilai dalam questionnaire. Dengan demikian, proses konseptualisasi dan operasionalisasi telah selesai. Selanjutnya adalah menguji apakah pengukuran konsep ini telah memenuhi standar reliabilitas dan validitas[2].

Latihan:

  1. Dari beberapa konsep ini, manakah yang termasuk variabel? Mengapa demikian?
    1. Meja
    2. Pengetahuan
    3. Papan tulis
    4. Kendaraan
    5. Jenis kelamin
    6. Kesadaran
    7. Pemikiran
    8. Kekayaan
    9. Status sosial
    10. Budaya
    11. Tarian
    12. Buku bacaan
    13. Media massa
    14. Internet
    15. Terpaan media
    16. Sebutkan skala bagi masing-masing variabel di bawah ini:
      1. Umur
      2. Tingkat kecerdasan
      3. Status pernikahan
      4. Frekuensi membaca Koran
      5. Pendapatan
      6. Di bawah ini terdapat beberapa ilustrasi mengenai operasionalisasi, tugas Anda adalah mencari variabel, membuat konseptualisasi dan operasionalisasinya, serta memberikan argumen pada proses tersebut (tiap kelompok pilih salah satu).
      7. Apakah  wanita lebih bersimpati dari pada pria?
      8. Apakah orang jawa lebih ramah dari pada orang luar jawa?
      9. Manakah yang lebih efektif menyampaikan sebuah informasi, mahasiswa teknik atau ilmu komunikasi?
      10. Siapakah yang lebih sadar hukum, orang yang sekolah atau yang tidak sekolah?
      11. Apakah tinggal di asrama menjadikan orang lebih mandiri dari pada yang tidak?

 


[1] Mengenai hal ini telah dijelaskan dalam Mata Kuliah Pengantar Statistik Sosial

[2] Mengenai reliabilitas dan validitas akan dijelaskan pada bab selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: