Paradigma Penelitian Sosial

K. B. Primasanti

Pada pohon pengetahuan ilmiah digambarkan bahwa posisi tertinggi dari susunan proses ilmu pengetahuan ditempati oleh ‘paradigma’. Sama ketika kita berjalan di bawah hujan, kita menggunakan payung untuk melindungi tubuh dan aktivitas kita demikian pula dalam penelitian, paradigma dianggap sebagai payung dari suatu kerja penelitian. Melalui sebuah paradigma, peneliti akan dapat memutuskan apakah penelitian yang akan dilakukan kuantitatif atau kualitatif. Namun, sebelum menentukan paradigma, peneliti hendaknya melihat ontology, yakni hakikat fenomena, dari objek yang diteliti. Apakah fenomena tersebut dipandang sebagai realitas tunggal atau realitas ganda. Realitas tunggal memisahkan satu fenomena dari realitas lain sehingga masing-masing dapat diteliti. Sedangkan realitas ganda maka realitas itu tidak bisa dibagi-bagi menjadi bagian yang terpisah satu dengan lainnya. Yang pertama dapat dilakukan menggunakan logika positivistik; sedangkan yang ke dua dapat dilakukan dengan logika fenomenologis (Kasiram, 2008: 125). Dari sisi pendekatan epistemologi, ragam pengetahuan yang kemudian menjadi paradigma dapat dibedakan melalui: ide-ide yang abstrak, benda fisik, jasad hidup, gejala ruhani, persistiwa sosial dan proses tanda. Kasmiran (2008: 126) merangkumnya dalam tabel berikut: Materi ilmu/ Pdkt Epistemologis Ide Abstrak Benda Fisik Jasad Hidup Gejala Rohani Peristiwa sosial Proses tanda Rasionalisme x x x Empirisme x x Rasionalisme Kristis x x x x x Positivisme x x x x x Konstruktivisme x x x x Fenomenologis x x x Pragmatisme x x x x x Historisme x x Objektivisme problem solving x x x x Hermeneutik x x Rahayu memilih mendefinisikan paradigma sebagai “ . . . a set of basic beliefs (or metaphysics) that deals with ultimate or first principles . . . a world view that defines, for its holder, the nature of the ‘world’ . . .” (Guba, dalam Denzin dan Lincoln, 1994; hal. 107). Guba dan Lincoln (1994) mengajukan tipologi yang mencakup 4 (empat) paradigma: Positivism, Postpositivism, Critical Theories et al., dan Constructivism, masing-masing dengan implikasi metodologi tersendiri. Tetapi sejumlah ilmuwan sosial lain melihat positivism dan postpositivism bisa disatukan sebagai classical paradigm karena dalam prakteknya implikasi metodologi keduanya tidak jauh berbeda. Karena itu pula, untuk kepentingan mempermudah bahasan tentang implikasi metodologi dari suatu paradigma, maka teori-teori dan penelitian ilmiah komunikasi cukup dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) paradigma, yakni: 1. classical paradigm (yang mencakup positivism dan postpositivism), 2. critical paradigm, dan 3. constructivism paradigm. Untuk melihat perbedaan paradigmatik dalam penelitian, berikut ini disajikan tabel berdasarkan empat dimensi dalam metafisik: Item Positivism Postpositivism Critical Constructivism Ontology Naïve realism-real Reality but apprehendable Critical realism “real” reality but only imperfectly and probabilistically apprehendable Historical realism virtual reality shaped by social, political, cultural, economic, ethnic, and gender values, crystallized over time Relativism local and specific constructed realities Epistemology Dualist/ objectivist finding true Modified dualist/objectivist, critical tradition/ communit, findings probably true Transactional/ subjectivist, value mediated findings Transactional/ subjectivist, created findings Methodology Experimental/ manipulative, verification of hypotheses, chiefly quantitative methods Modified experimental/ manipulative, critical multiplism, falsification of hypotheses, may include qualitative methods Dialogic/ dialectical Hermeneutical/ dialectical Klasik Konstruktivisme Kritis Menempatkan ilmu sosial seperti halnya ilmu-ilmu alam dan fisika, dan sebagai metode yang terorganisir untuk mengkombinasikan deductive logic dengan pengamatan empiris, guna secara probabilistik menemukan — atau mem-peroleh konfirmasi tentang – hukum sebab-akibat yang bisa dipergunakan mem-prediksi pola-pola umum gejala sosial tertentu. Memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial dalam setting keseharian yang alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang ber-sangkutan menciptakan dan memelihara/mengelola dunia sosial mereka. Mendefinisikan ilmu sosial sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha meng-ungkap “the real structures” dibalik ilusi, false needs, yang dinampakkan dunia materi, dengan tujuan membantu membentuk suatu kesadaran sosial agar memperbaiki dan merobah kondisi kehidupan manusia Perbedaan antar paradigma juga bisa dibahas dari 4 (empat) dimensi, yakni: 1. Epistemologis, yang antara lain menyangkut asumsi mengenai hubungan antara peneliti dan yang diteliti dalam proses untuk memperoleh pengetahuan mengenai objek yang diteliti. Kesemuanya menyangkut teori pengetahuan (theory of knowledge) yang melekat dalam perspektif teori dan metodologi. 2. Ontologis, yang berkaitan dengan asumsi mengenai objek atau realitas sosial yang diteliti. 3. Metodologis, yang berisi asumsi-asumsi mengenai bagaimana cara memperoleh pengetahuan mengenai suatu objek pengetahuan. 4. Aksiologis, yang berkaitan dengan posisi value judgments, etika, dan pilihan moral peneliti dalam suatu penelitian. Paradigma positivism menganggap realitas itu sebagai sesuatu yang empiris atau benar-benar nyata dan dapat diobservasi. Dalam meneliti, peneliti dan obyek yang diteliti bersifat independen dan saling tidak berinteraksi. Cara menelitinya bisa dengan percobaan atau manipulasi sehingga dapat dikontrol obyektivitasnya. Paradigma Post Positivisme melihat realitas sebagai sesuatu yang tidak dapat diindera secara sempurna, hanya kemungkinan karena kelemahan manusia dan faktor lingkungan yang selalu berubah. Paradigma ini mensyaratkan keterlibatan subjektif dari peneliti untuk memudahkan memahami realitas subjektif sedekat mungkin. Paradigma konstruktivis menganggap kenyataan itu hanya bisa dipahami daam bentuk jamak, berupa konstruksi mental yang tidak dapat diindera. Berbasis sosial dan pengalaman yang bersifat lokal dan spesifik. Peneliti dan subjek peneliti terkait erat secara timbal balik sehingga penemuan dicipta seperti yang dikehendaki peneliti. Cara penelitian ini menggunakan teknik hermeneutic dan dibandingkan serta dilawankan dengan melalui tukar menukar bahasa daerah, sehingga terjaring konstruksi consensus yang lebih jelas. Sementara, paradigma kritis menganggap realitas sebagai kenyataan sejarah, terjadi pada masa lampau dan dibentuk oleh sekumpulan faktor: sosial, politik, ekonomi, budaya yang mengkristal dalam sejumlah struktur sebagai kenyataan alamiah dan tidak berubah. Peneliti dan yang diteliti dianggap berkaitan eraat timbale balik dan penilaian peneliti tidak dapat dielakkan mempengaruhi penemuan. Cara menelitinya dengan cara dialog antara peneliti dengan menggunakan bahasa yang saling dimengerti. Ke empat paradigma ini dapat digolongkan menjadi dua paradigma besar, yakni: paradigma ilmiah dan paradigma alamiah. Paradigma ilmiah bersumber pada positivistik; sedangkan paradigma alamiah bersumber pada fenomenologis. Sumber: Kasiram. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif. Malang: UIN-Malang Press. Rahayu. Diktat Mata Kuliah Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: